Keesokan harinya, pagi-pagi kami berjalan kaki di sekitar hotel. Di jalan, banyak terlihat siswa yang mengendarai sepeda menuju ke sekolah. Menarik.
Di perjalanan, kami melewati Penginapan Djanggleng, yang kalau tidak salah juga milik salah satu saudara jauh saya. Isinya banyak perabotan dari kayu jati yang sudah kuno. Dulu sekali saya pernah menginap di sini.
Kami mampir di rumah paklik, yang merupakan adik sepupu dari ibu saya. Konon, orang tua dari eyang putri pada zaman dahulu merupakan orang yang cukup terpandang di kota Bojonegoro.
Eyang buyut punya tiga orang anak. Sepeninggal beliau, tanahnya pun dibagi 3 untuk ketiga anaknya. Salah satunya berada di posisi tusuk sate jalan Pangsud (ini rumah eyang putri saya). Saat ini sedang dijual, kalau ada yang tertarik, bisa hubungi nomor tertera ya, hehe. Lokasinya sangat strategis. Mau ke alun-alun kota hanya sepelemparan batu saja.
Kami kemudian jalan-jalan ke alun-alun kota, beberapa ratus meter dari rumah paklik.
Di salah satu sudut alun-alun, kami menemukan tulisan Taman Mbah Balok, walau tidak tahu apa artinya.
Hasil googling beberapa detik lalu, disadur dari jatimnow.com, Mbah Balok ternyata bukan lah manusia. Dia adalah sebatang kayu jati yang primitif. Balok adalah sebutan khas orang Bojonegoro bagi kayu jati.
Memiliki panjang 17 meter dan berdiameter 45 cm, kayu jati yang modelnya mirip lesung itu dipajang di pojok selatan alun-alun. .
Pemkab Bojonegoro menjadikan Mbah Balok yang dipajang 7 November 2015 sebagai 'Monumen Gotong Royong Kayu Jati' yang juga sebagai cagar budaya.
Memang kabupaten yang yang dikenal sebagai Kota Minyak ini terkenal sejak dahulu tentang kekayaan alam kayu jatinya hingga ke mancanegara. Perabotan di Djanggleng (baca postingan sebelumnya), banyak yanh terbuat dari kayu jati tua.
Ohya, satu hal yang unik lainnya dari Kota Bojonegoro adalah, banyak yang menjual makanan untuk bayi, dijual dalam gerobak-gerobak dengan tulisan yang cukup fancy. Setahu saya, di Jakarta belum ada hal seperti ini ya. Ini unik banget sih. Saya saja jadi tertarik untuk mencoba makanan bayi tersebut.
Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya sewaktu berkeliling di sekitar alun-alun adalah saat di dekat masjid.
Di salah satu sisi alun-alun terdapat Masjid Agung Bojonegoro, yang pada saat itu cukup ramai dipenuhi oleh anak sekolah mengenakan baju muslim. Tampaknya hari itu, jam pertama pelajaran dilakukan di masjid. Terlihat banyak orang tua yang mengantarkan anaknya ke masjid tersebut. Satu hal yang membuat unik adalah, para guru menunggu di depan masjid untuk menyambut siswa-siswanya.
Terlihat suatu motor mendekati masjid, dikendarai oleh seorang ibu, dengan anaknya duduk manis di belakangnya. Motor tersebut kemudian berhenti di pinggir masjid, dan si anak turun motor dan mencium tangan ibunya. Mengenali sang anak, salah seorang guru menghampiri motor tersebut, dan menyapa sang ibu dan anak dengan santun dan hangat. "Assalamu'alaikum ibu. Apa kabar? Halo Hanif (bukan nama sebenarnya), sudah sarapan belum?"
Ah, I loved loved loved seeing that. Duh, maaf apabila menggunakan Bahasa Inggris, tapi rasanya menggunakan Bahasa Indonesia kurang ekspresif ya. Coba, "saya cinta cinta cinta sekali melihat hal tersebut". Menurut saya terkesan kurang alami. Hehe.
Sekolah di Jakarta, atau di kota lain, atau di negara lain, seperti itu kah sekarang?
No comments:
Post a Comment