26 August 2026

Napak Tilas Bojonegoro Day 3

<<image 1>>

Keesokan harinya, pagi-pagi kami berjalan kaki di sekitar hotel. Di jalan, banyak terlihat siswa yang mengendarai sepeda menuju ke sekolah. Menarik.
.
Di perjalanan, kami melewati Penginapan Djanggleng, yang kalau tidak salah juga milik salah satu saudara jauh saya. Isinya banyak perabotan dari kayu jati yang sudah kuno. Dulu sekali saya pernah menginap di sini.
.
Kami mampir di rumah paklik, yang merupakan adik sepupu dari ibu saya. Konon, orang tua dari eyang putri pada zaman dahulu merupakan orang yang cukup terpandang di kota Bojonegoro.
.
Eyang buyut punya tiga orang anak. Sepeninggal beliau, tanahnya pun dibagi 3 untuk ketiga anaknya. Salah satunya berada di posisi tusuk sate jalan Pangsud (ini rumah eyang putri saya). Saat ini sedang dijual, kalau ada yang tertarik, bisa hubungi nomor tertera ya, hehe. Lokasinya sangat strategis. Mau ke alun-alun kota hanya sepelemparan batu saja.

<<image 2>>
Kami kemudian jalan-jalan ke alun-alun kota, beberapa ratus meter dari rumah paklik.
.
Di salah satu sudut alun-alun, kami menemukan tulisan Taman Mbah Balok, walau tidak tahu apa artinya.
.
Hasil googling beberapa detik lalu, disadur dari jatimnow.com, Mbah Balok ternyata bukan lah manusia. Dia adalah sebatang kayu jati yang primitif. Balok adalah sebutan khas orang Bojonegoro bagi kayu jati.
.
Memiliki panjang 17 meter dan berdiameter 45 cm, kayu jati yang modelnya mirip lesung itu dipajang di pojok selatan alun-alun. .
Pemkab Bojonegoro menjadikan Mbah Balok yang dipajang 7 November 2015 sebagai 'Monumen Gotong Royong Kayu Jati' yang juga sebagai cagar budaya.
.
Memang kabupaten yang yang dikenal sebagai Kota Minyak ini terkenal sejak dahulu tentang kekayaan alam kayu jatinya hingga ke mancanegara. Perabotan di Djanggleng (baca postingan sebelumnya), banyak yanh terbuat dari kayu jati tua.
.
Ohya, satu hal yang unik lainnya dari Kota Bojonegoro adalah, banyak yang menjual makanan untuk bayi, dijual dalam gerobak-gerobak dengan tulisan yang cukup fancy. Setahu saya, di Jakarta belum ada hal seperti ini ya. Ini unik banget sih. Saya saja jadi tertarik untuk mencoba makanan bayi tersebut.

<<image 3>>
Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya sewaktu berkeliling di sekitar alun-alun adalah saat di dekat masjid.
.
Di salah satu sisi alun-alun terdapat Masjid Agung Bojonegoro, yang pada saat itu cukup ramai dipenuhi oleh anak sekolah mengenakan baju muslim. Tampaknya hari itu, jam pertama pelajaran dilakukan di masjid. Terlihat banyak orang tua yang mengantarkan anaknya ke masjid tersebut. Satu hal yang membuat unik adalah, para guru menunggu di depan masjid untuk menyambut siswa-siswanya.
.
Terlihat suatu motor mendekati masjid, dikendarai oleh seorang ibu, dengan anaknya duduk manis di belakangnya. Motor tersebut kemudian berhenti di pinggir masjid, dan si anak turun motor dan mencium tangan ibunya. Mengenali sang anak, salah seorang guru menghampiri motor tersebut, dan menyapa sang ibu dan anak dengan santun dan hangat. "Assalamu'alaikum ibu. Apa kabar? Halo Hanif (bukan nama sebenarnya), sudah sarapan belum?"
.
Ah, I loved loved loved seeing that. Duh, maaf apabila menggunakan Bahasa Inggris, tapi rasanya menggunakan Bahasa Indonesia kurang ekspresif ya. Coba, "saya cinta cinta cinta sekali melihat hal tersebut". Menurut saya terkesan kurang alami. Hehe.
.
Sekolah di Jakarta, atau di kota lain, atau di negara lain, seperti itu kah sekarang?






Hari ketiga #napaktilasbojonegoro2018. Tujuan pertama adalah rumah Pak Harjosudono, tempat di mana dulu eyang kakung pernah tinggal selama sekitar 10 tahun, dari 1931 sampai 1941. Saat itu eyang menjadi guru di desa tersebut. Eh, desa atau kota ya?

Kami disambut oleh Ibu Endang, anak dari pemilik rumah terdahulu. Jadi, sebenarnya rumah tersebut sudah dibagi-bagi ke beberapa anaknya, dan sebagian porsi rumah tersebut sudah dijual.

Namun, ibu tersebut enggan menjual bagian miliknya. Beliau berkata bahwa dia merasa bahwa nanti akan ada yang datang kembali untuk melihat rumah tersebut kembali (dan ternyata benar!)

Beliau bercerita bahwa saat pakde baru saja menjabat menjadi kepala daerah tahun 1993 yg lalu, pakde pernah melakukan napak tilas ke rumah tersebut. Bu Endang bercerita dengan sangat bangga bahwa pakde saat itu masih ingat beliau, dan bahkan memanggil dengan panggilan mbakyu dan juga mengingat nama kecilnya.

Konon katanya (kata buku biografi), eyang sejak masih kecil sangat disayang oleh ibunya, karena wajahnya mirip nenek dari pihak ibu. Karena itu pulalah, ia banyak mendapat pengajaran moral dari ibunya, yang kalau menasihati selalu mampu menembus hati. Sikap ibunya ini, menjadi perhatian dan sangat meresap di dalam sanubari eyang. Demikian pula, disiplin tinggi dan semangat ayahnya menyekolahkan anak-anaknya, sangat membekas di relung hati eyang. Dan semuanya, seperti menemukan ruang gerak dan wujudnya, ketika eyang menjadi seorang guru.

Setelah lulus dari Normaal School tahun 1931, eyang langsung diangkat menjadi guru di Ngraho, Bojonegoro. Keinginannya menyumbangkan semangat intelektualisme dan nasionalisme kepada anak didik, menemukan bentuk. Dan tentu saja, membangun desa adalah obsesi yang telah bersemi lama di dalam dirinya. la sangat sadar akan tanggung jawabnya, dan tidak ingin disebut "seperti kacang melupakan kulit".



Merasa terpanggil menjadi guru, eyang merasa tak pantas menjadi tentara. Bahkan ketika sudah menjadi tentara, eyang pernah mengajukan pengunduran diri berkali-kali (lihat postingan saya sebelumnya, di hashtag #eyangdirman).

Tapi, pengajuannya itu setiap kali pula ditolak. Karena itu, dalam profesi militernya di kemudian hari, ia pun memegang teguh prinsip-prinsip keguruannya. Bahwa ia berada di dalam ketentaraan, bukanlah karena ia memang bercita-cita menjadi tentara - melainkan ingin mengabdi kepada rakyat.

Dalam pengabdiannya sebagai guru, yang sering membuat ia prihatin adalah keadaan di desanya, bila musim hujan. Murid banyak yang membolos, lantaran mereka terpaksa membantu orang tua di rumah dan di sawah, terutama pada saat menggarap sawah. Karena itu, tak jarang ia mendatangi para orang tua murid di rumah-rumah mereka, berdialog, agar anaknya segera diijinkan kembali ke sekolah.

Namun, eyang juga melihat, bahwa memang demikianlah keadaan sebagian besar keluarga di Jawa saat itu. Serba kekurangan, kalau tidak pas-pasan. Karenanya, tak jarang eyang harus pula mengurus sendiri segala sesuatunya, menyangkut keperluan murid dan sekolahnya. Mulai dari mengurus pendaftaran anak didik, menagih uang sekolah yang tertunggak, dan lain-lain.

Di samping bakatnya sebagai guru, yang membantunya dalam kegiatan mengajar ini adalah ketangkasannya dalam berolah raga, seperti atletik, bulu tangkis, dan sepak bola. Bekal kemampuan olah raga ini, secara optimal diturunkan eyang kepada anak didiknya.

Namun, kesukaannya pada olah raga ini turut pula membukakan peluang baginya memasuki dunia militer. Pada saat pendudukan Jepang, eyang berpikir, jika ingin merdeka, maka harus ada persiapan tentara yang matang dan kuat. Maka, dengan semangat nasionalisme yang berkobar, ia pun mendaftarkan diri menjadi opsir. Bahkan, ia juga mengajak bekas murid-muridnya, para pemuda di desanya, untuk ikut mendaftarkan diri.

Sebagai guru dan seorang nasionalis, ia diterima menjadi calon tentara Jepang, dan mendapatkan pendidikannya di Bogor. .


Eyang sebagai guru, memiliki penampilan yang dekat, sekaligus mendatangkan hormat dari para muridnya. Sebab, eyang sangat menyadari, bahwa dalam setiap situasi, manusia hendaknya menunjukkan sikap hormat, sesuai derajat dan kedudukannya.

Sikap hidup inilah yang disebut sebagai prinsip hormat dalam etika jawa, yang dalam keluarga eyang mendapatkan tempat secara turun-temurun. Tapi, menurut eyang - prinsip menghormati orang lain dan diri sendiri ini - bukan saja bentukan etika jawa. Sebab nilai yang sama pun ia peroleh dari etika Islam. Dan dalam hal ini, ia hanya berusaha saja agar menjadi muslim yang baik.

Namun, pada masa itu pun, peranan guru di sekolah memang sangat ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, pengajar, dan pendidik. Harapan dan citra masyarakat tentang guru yang baik harus tetap dipelihara. Aspek etik, intelektual, dan sosial, sudah dituntut tinggi dari seorang guru. Eyang, yang cukup berhasil menghayatinya secara sadar, berhasil pula memperlihatkan, bahwa sosok guru memang benar-benar perlu ditiru anak didik dan masyarakatnya.
---------
Di sekolah ini, eyang mengajar lebih kurang selama 10 tahun. Lokasinya dekat dengan rumah yang tadi kami kunjungi. Sekolah ini sangat bagus menurutku untuk ukuran sekolah yang berada di rumah. Pantas saja, katanya ini satu-satunya sekolah unggulan tingkat propinsi yang berada di sekitar situ.

Kami disambut oleh kepala sekolah, katanya sih arsip mengenai eyang tidak ditemukan, karena administrasi pencatatan yang rapih belum dilakukan pada masa kerja eyang di sana. .



Kabupaten Bojonegoro (Jawa: Kabupatèn Bajanegara, 
Hanacaraka: ꦧꦺꦴꦗꦤꦒꦫ, Pegon: كَبُڤَتَينْ بَوْجَونٚغَر) memiliki motto Jer Karta Raharja Mawa Karya" (dari Bahasa Jawa yang artinya "Jika Ingin Sejahtera Harus Bekerja"). .
Kota ini memiliki julukan Kota Tayub. Artinya apa? Saya tidak tahu. Saya tahunya Hey Tayub. #halah.

Hasil dari googling, Tayub berasal dari kata tata dan guyub. Yang saya juga tidak paham artinya.

Ohya, jadi, dari Desa Ngraho, kami kembali ke kota Bojonegoro, untuk mendatangi destinasi berikutnya.



Sesampainya di kota, kami melanjutkan perjalanan ke Stadion Letjen H. Soedirman. Stadion ini dipergunakan untuk menggelar pertandingan sepak bola, dan merupakan markas dari Persibo Bojonegoro. Stadion ini memiliki kapasitas 20.000 orang, kata Wiki tentu saja.

Saat itu hari sudah beranjak sore. Tidak ada laga pertandingan di hari itu, jadi stadion sangatlah sepi.

Namun, demi konten, jadilah kami asal berlari di dalam stadion ini 😂. Kami pun mengambil beberapa gambar.

Kami tidak bisa berlama-lama di stadion ini, mengingat kami sudah ditunggu di destinasi berikutnya.



Setelah mengunjungi stadion yang berlokasi di pusat kota Bojonegoro, kami melanjutkan perjalanan ke Temayang, 45 menit ke arah timur.

Lokasi acara berada di Taman Palagan. Kata 'palagan' sendiri bagi saya cukup identik dengan Ambarawa. Namun, ternyata palagan tidak hanya ada di Ambarawa. .
Kata 'palagan' berasal dari Bahasa Jawa yang artinya perang, ataupun arena peperangan. Jadi, wajar saja kalau palagan terdapat di banyak tempat di nusantara ini.



Sesampainya di taman tersebut, terlihat beberapa petugas sudah menunggu, dan juga dua orang sesepuh. Saya sudah lupa namanya sayang sekali. Salah satunya merupakan salah seorang pejuang yang turut bertempur pada masa tersebut. Adapun yang lainnya merupakan penduduk setempat yang memiliki banyak wawasan mengenai kondisi pada saat itu, dan turut membantu perjuangan para tentara.

Walau ini merupakan destinasi ke sekian, dan hampir di tiap destinasi ada yang menyambut, tetapi saya tetap saja terkejut 😅.

Ohya, beliau para sesepuh menyampaikan cerita, namun ceritanya disampaikan dalam Bahasa Jawa. Yak, saya hanya bisa manggut-manggut saja.

Kalau dari artikel online, Dari penuturan warga sekitar disaat itu situasi Desa Temayang sangat mencekam, rakyat dalam kondisi miskin. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat untuk membantu para tentara Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Para warga memberikan sumbangan kepada tentara Indonesia, baik berupa uang atau hasil bumi dan para pemuda ikut bergerilya.



Tugu ini menjadi penanda, simbol perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Desa Temayang, dimana tentara dan warga bahu membahu mengusir penjajah.

Dari penuturan warga sekitar disaat itu situasi Desa Temayang sangat mencekam, rakyat dalam kondisi miskin. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat untuk membantu para tentara Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Para warga memberikan sumbangan kepada tentara Indonesia, baik berupa uang atau hasil bumi dan para pemuda ikut bergerilya. Bahkan terdapat beberapa orang yang ikut serta gugur melawan penjajahan.


Little did I know. Sungguh, banyak hal yang tidak saya tahu sebelumnya mengenai perjalanan hidup eyang.

Banyak tempat-tempat yang ternyata menjadi saksi perjalanan hidup eyang, dan beberapa bahkan mengabadikan nama beliau menjadi nama objek tempat atau bangunan.

Dan ya, saya, dan mungkin juga banyak saudara saya yang lain juga tidak mengetahuinya. Saya rasa bahkan ibu saya juga tidak tahu semuanya, hehe. .
Mungkin iya, karena sebenarnya saya sendiri bukan orang yang senang membaca buku sejarah. Alasannya, ya karena, maaf, jujur saja agak membosankan. Begitu mendengar sejarah, yang muncul di pikiran saya adalah mengenai tanggal dan nama, yang membuat saya langsung mengambil langkah mundur teratur. Film sejarah pun saya juga kurang tertarik untuk menonton, padahal mestinya bisa dicoba ya.

Padahal, membaca buku sejarah bisa cukup menyenangkan apabila dilihat dari sudut pandang psikologis pelaku dan tidak hanya dari sisi aktivitas yang dilakukan. Mencoba mendalami apa yang mereka rasakan saat itu dan juga korelasinya dengan tindakan yang diambil, sepertinya akan menarik.

Ohya, kantor desa kebetulan sekali menyiapkan album foto yang berisi acara yang pernah diadakan oleh Brigade Ronggolawe berpuluh-puluh tahun lalu. Beruntung bisa melihat foto-foto jadul di tempat yang bagi saya antah berantah, dan melihat foto orang yang saya kenal di dalamnya.



Postingan ini menutup seri #napaktilasbojonegoro2018. Niatan awalnya, seri ini diposting saat hari pahlawan kemarin, karena memang cukup banyak bercerita mengenai perjuangan pada masa kemerdekaan.

Nah, menariknya, eyang saya berpendapat bahwa pahlawan sesungguhnya juga meliputi warga dan dan rakyat, tidak secara sempit diartikan sebagai hanya mereka yang memegang senjata saja.

Pahlawan adalah mereka yang rela berbagi makanan kepada para prajurit di tengah hidup yang pas-pasan, pahlawan adalah mereka yang merelakan rumahnya menjadi tempat bersembunyi prajurit, pahlawan adalah mereka yang terkadang menjadi tameng atau bahkan peluru nyasar tentara musuh. Saat para prajurit bisa bersifat bergerak ke sana kemari, rakyat tidak. Warga acapkali menjadi sasaran empuk para tentara musuh.

Oleh karena itu, eyang sangat gelisah ketika terjadi ketimpangan ekonomi. Mungkin di pikirannya, inikah kemerdekaan yang diinginkan dahulu? Pengorbanan rakyat apakah juga membuahkan hasil yang dapat dinikmati oleh semua rakyat secara adil?

25 August 2026

Napak Tilas Bojonegoro Day 2

 

<<image 1>>


Acara keesokan harinya adalah berkeliling. Kami berjalan kaki dahulu melihat sekitar. Hanya 5 menit berjalan, kami sudah bisa bersua dengan Sungai Bengawan Solo yang terkenal itu.
.
Terlihat sebuah perahu sedang berlayar mendekat, berisi beberapa penumpang beserta kendaraan mereka menyeberangi sungai.
.
Kata wiki, Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, dengan dua hulu sungai yaitu dari daerah Pegunungan Sewu dan Ponorogo, selanjutnya bermuara di daerah Gresik. "Bengawan" dalam bahasa Jawa berarti "sungai yang besar". #barutau 😂
.
Pada masa lalu, sungai ini pernah dinamakan Wuluyu, Wulayu, dan Semanggi (dieja Semangy dalam naskah bahasa Belanda abad ke-17)
.
Dan, mestinya ini dikasih latar lagu "Bengawan Solo" nih, yang menurut saya lagu Indonesia yang paling klasik dan mendunia.


<< image 2>>

Dari pinggir sungai, kami melakukan perjalanan kembali. Lima menit berselang, sawah-sawah hijau muncul ke hadapan. Mentari pagi yang berpendar keemasan membuat paduan warna hijau dan jingga berpadu indah. Embun pagi menyegarkan. Rasanya pas kalau lagu Zamrud Khatulistiwa menjadi latar.
.
Dasar anak kota, ketemu sawah saja bisa bikin girang.


<<image 3>>

Kami bertemu dengan para petani yang sedang menjaga sawahnya dari ancaman burung. Cara menjaga sawahnya bermacam-macam, ada yang dengan cara menggoyangkan tali yang terhubung dengan orang-orangan sawah. Terkadang pada tali tersebut, terdapat kaleng-kaleng yang berbunyi ketika bergerak.
.
Selain itu, ada juga yang mengusir burung dengan cara menabuh kaleng yang dia bawa sambil berteriak-teriak, seperti yang dilakukan seorang ibu pada video berikut. Gaduh sekali.
.
Ohya, jalan desa ini terbuat dari conblock dan bukannya aspal. Bagusss.


<<image 4>>

Tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti, mengapa desa di tepi sungai itu diberi nama Ngringinrejo. Yang jelas, banyak yang menafsirkan nama ini sebagai "tempat yang teduh dan ramai". Penafsiran mana, bila dikaitkan dengan kata "ringin" (pohon beringin) dan "rejo" (ramai), memang terlihat tidak mengada-ada. Semua orang (terlebih lagi orang jawa) sudah mahfum bahwa "ringin" (pohon beringin) itu melambangkan (baca: menjanjikan) suasana teduh.
.
Meskipun demikian, Ngringinrejo ternyata juga dimaknai oleh sebagian orang secara harfiah, yakni "ringin" yang "rejo". Artinya, pohon beringin yang ramai. Lalu, pengertian ini kemudian diperluas menjadi, tempat yang banyak ditumbuhi pohon beringin, dan ramai ditinggali orang.
.
Nah, terus yang saya foto adalah sawah, mana pohon beringinnya? Gapapa lah ya, yang punya akun mah bebas 😜.
.
Ohya, terdapat foto dengan bayangan si fotografer ikut numpang ikut (photobomb). Tak apa lah ya, yang penting target foto di tengah sawah sudah terlaksana.

<<image 5>>

Sejam berlalu (80% digunakan untuk foto-foto), kami akhirnya sampai di Bendung Gerak. Kami melakukan inspeksi terhadap proyek yang sedang dilakukan di bendungan ini. Bohong deng. Yang kami lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah membeli kudapan dan kopi/teh.
.
Keberadaan Bendung Gerak, yang membendung sungai Bengawan Solo ini, fungsinya di samping sebagai penyedia air untuk rumah tangga, pertanian, juga sekaligus menjaga dari kerusakan ekosistem sungai Bengawan Solo supaya tak meluas ketika banjir menerjang dan sebagai bentuk tata kelola air di Jawa Timur.

Sebelumnya petani hanya bisa melakukan tanam dua kali setahun, sekarang diharapkan bertambah menjadi tiga kali tanam dalam setahun.
.
Dulu sekitar 21 ribu hektare lahan pertanian padi di Bojonegoro Barat andalkan pertanian tadah hujan. Setelah ada pompanisasi, wilayah itu tidak mampu melakukan 2 kali panen dalam setahun. Maka sawah beririgasi dengan pompa air menjadi menjadi 6000 ribu hektare. Dengan adanya bendungan gerak ini 11 ribu hektare sawah akan bisa ditanami dua kali setahun. (diambil dari wiki, tentu saja).


<<image 6 >>

Foto ini diambil dari dalam sungai Bengawan Solo, in a way. Ini berada pada bagian kering dari bendungan.
.
Mas Andi mengajak kami melanjutkan berkeliling menggunakan mobil, syukur alhamdulillah.
.
Tujuan pertama adalah berkunjung ke sisi surut dari Bendung Gerak. Pada sisi surut ini (oke, saya sebenarnya asal saja menamakan sisi surut. Jadi, yang namanya bendungan kan ada dua sisi. Satu sisi merupakan tempat air dibendung, dan satu sisi dimana air keluar perlahan-lahan, dan permukaannya lebih rendah dari sisi bendung tersebut).
.
Saya selalu berpikir bahwa ikan hanya banyak terdapat pada sisi bendung, karena di situ banyak terdapat air. Banyak air -> banyak ikan. Namun, saya ternyata salah. Pada sisi surut juga terdapat banyak ikan. Saya baru tahu bahwa beberapa jenis ikan ternyata senang berenang melawan arus, tidak hanya salmon saja.
.
Nah, dengan adanya bendungan, maka ikan-ikan ini menemui jalan buntu ketika sedang dalam perjalanan berenang melawan arus. Ikan-ikan ini menjadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan.


<<image 7>>

Setelah dari Bendung Gerak, kami menuju ke kebun jambu batu kristal yang berlokasi tidak jauh dari situ. Yang keren adalah, di kebun jambu ini terdapat WiFi juga lho. Sulit dipercaya. Dan ternyata itu bukan sekedar papan pengumuman, karena ketika saya coba cari WiFi, ada access pointnya! (sayang saya lupa screencap).


<<image 8>>

Kami pun melanjutkan perjalanan melihat daerah sekitar, melihat sapi, lalu ayam yang memiliki bunyi kokok unik (jangan tanya saya nama jenis ayamnya apa).
.
Ada juga tanaman berbentuk unik yang tentu saja namanya saya juga lupa.


<<image 9>>

Setelah berkeliling, kami kembali ke rumah buyut untuk bersih-bersih. Maksudnya adalah mandi ya, bukan menyapu, mengepel, ataupun mencuci baju. Maksud dan tujuan dari bersih-bersih ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk foto-foto. Kami juga menyiapkan kostum khusus untuk hari ini.
.
Destinasi pertama foto-foto adalah tentu adalah rumah buyut. .
Destinasi kedua, yaitu Masjid Al-Fattah yang berlokasi di sebelah rumah eyang buyut, yang pembangunannya diprakarsai oleh eyang kakung semenjak tahun 1971. Siapa tahu nanti di masa depan saya bisa membangun masjid juga ya (Aamiin).
.

<<image 10>>

Destinasi ketiga yaitu makam eyang buyut. Kalau hari sebelumnya merupakan makam eyang buyut dari eyang putri, kalau di desa ini adalah makam eyang buyut dari eyang kakung. 
Di makam desa ini juga dimakamkan beberapa keluarga lainnya, seperti makam-makam dari kakak dan adik eyang kakung. Salah satu kakak dari eyang kakung yang gugur pada masa perjuangan, juga dimakamkan di kompleks makam ini.

Setelah dari makam, kami pun melanjutkan perjalanan ke kota sebelah. Eits, tunggu dulu. Kami melakukan foto bersama terlebih dahulu pada jalan masuk Desa Ngringinrejo. Mengapa? Soalnya di situ ada nama eyang sebagai papan jalan. lol. Nah, kalau tidak mudik, kemungkinan besar kami para cucunya tidak tahu informasi ini.


<<image 11>>

Dari Desa Ngringinrejo, kami melanjutkan perjalanan sejauh 45 km arah utara ke Desa Sugihan.
.
Kami mampir ke Masjid Haji Soedirman untuk shalat dzuhur. Percaya atau tidak, sebagian besar dari kami baru tahu bahwa ada masjid yang namanya diambil dari nama eyang.
.
Jadi, begitu sampai, komentar saya adalah, "masjid ini pakai namanya eyang?". Jujur saja saya juga tidak tahu jadwal lengkap napak tilas kali ini kemana saja. Jadi, tiap kali sampai di suatu destinasi, tidak tahu apa yang akan ditemui.
.
Kami disambut oleh perangkat desa setempat. Saya juga tidak menyangka akan disambut secara formal seperti itu. Dari pihak desa dan keluarga menyampaikan sambutan.
.
Apa kaitan antara eyang dan Desa Sugihan? Tunggu postingan berikutnya.


<<image 12>>

Desa Sugihan mungkin salah satu desa yang sangat berkesan bagi eyang. Dahulu, eyang merupakan pemimpin Brigade Ronggolawe, dimana saat Agresi Militer Belanda 2, brigade berbasiskan di Desa Temayang (iya, ini desa lain lagi).
.
Sebagai pemimpin, tidak mungkin beliau berdiam di basis utama saja. Namun, beliau juga sering mengadakan kunjungan ke desa-desa.
.
Secara strategis, eyang sangat sadar bahwa kunjungan-kunjungan yang dilakukannya sangat bermanfaat. Bagaimanapun, secara moral, kehadirannya di tengah-tengah pos pertahanan pasukan maupun di tengah-tengah penduduk - menghadirkan rasa persatuan dan membangkitkan semangat juang yang tinggi.
.
Begitulah yang berlangsung pada akhir bulan April 1949. Eyang kembali melakukan inspeksi. Bahkan kali ini, eyang mengemban tugas yang dipercayakan oleh pusat, guna mengimbangi langkah-langkah intensif Belanda yang masuk ke kantong-kantong pertahanan para gerilya.
.
Setelah selama seminggu melakukan inspeksi ke kantong-kantong pertahanan gerilya, lalu bertemu juga dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti para ulama dan pemuka adat, ataupun tokoh-tokoh nonformal lainnya yang memiliki pengaruh moral di masyarakatnya - eyang dan rombongannya pun bermaksud kembali ke desa Temayang. Namun, karena pertemuan terakhir yang mereka selenggarakan berakhir sudah sore hari, eyang pun mengajak rombongannya untuk singgah dan menginap di desa Sugihan.
.
Di desa Sugihan, berdiamlah seorang tokoh masyarakat bernama Said. Seorang bekas Heiho yang berasal dari Jawa Barat, tapi kemudian menetap dan berkeluarga, dengan menikahi perempuan warga desa Sugihan.
Kegembiraan, itulah yang terpancar di tengah keluarga Said dan penduduk desanya, ketika melihat siapa yang telah singgah di desa mereka. Maka kesibukan pun segera mewarnai desa yang biasanya senyap itu. Kepala Desa sengaja menambah tenaga keamanan demi keselamatan tamu penting mereka.
.
Namun, sementara itu, mata-mata pasukan Belanda agaknya telah lama mengintai gerak-gerik rombongan eyang dan bermaksud menyergap. Dengan tujuan, yang mudah diduga: melenyapkan eyang. Dalam arti politis: menghentikan segenap langkah-langkah perang gerilya yang disebarkan oleh eyang. (bersambung)


<<image 13>>

Peristiwa berdarah itu terjadi pada 8 Mei 1949. Menjelang subuh, seluruh penduduk Desa Sugihan pun dikejutkan oleh suara-suara tembakan. Rumah keluarga Said diserbu oleh pasukan khusus Belanda yang diperlengkapi senjata modern dan sangat memadai. Berlawanan dengan kondisi persenjataan eyang dan rombongannya, yang hanya membawa sepucuk pistol dan beberapa persenjataan sederhana.
.
Tapi sejarah ternyata ingin berkisah lain. Dalam serbuan yang tidak berimbang itu, eyang selamat. Ketika pasukan khusus Belanda menyerbu masuk, dan menewaskan beberapa orang anggota rombongan eyang, beberapa anggota lainnya mengadakan perlawanan gigih. Eyang sendiri, yang segera terjaga dan sempat meraih pistolnya, segera melepaskan tembakan balasan. Seorang tentara Belanda berhasil ia tewaskan. Lalu, eyang pun keluar dengan melompati jendela kamarnya, dan menunggu di kerimbunan kebun di belakang rumah.
.
Setelah terang pagi meninggi, dan masyarakat berdatangan, barulah eyang keluar dari persembunyiannya. Beberapa anggota pasukan Belanda yang masih hidup, ternyata langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ada pun korban yang jatuh, di samping dari anggota rombongan eyang sendiri, serta beberapa anggota pasukan Belanda - yang mengenaskan adalah tewasnya keluarga Said suami-istri bersama empat anak mereka. Keluarga Said ini, meninggalkan seorang anak, yang selamat karena tertindih oleh mayat saudara-saudaranya.
.
Versi lain menyebutkan bahwa anak ini, yang bernama Chamami, bersembunyi di dalam kandang hewan ternak sehingga berhasil selamat.
.
Pakde mamik menjadi anak angkat eyang, dan berhubungan baik dengan keluarga kami sampai akhir hayatnya.
.
Ohya, di Desa Sugihan, kami disambut oleh perangkat kecamatan, pemilik rumah tempat kejadian tersebut terjadi, serta keturunan dari Pakde Mamik.


<<image 14>>

Kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Bojonegoro. Tujuan kami adalah ke Masjid Baabus Shofa. Pendirian masjid ini merupakan inisiatif dari Pakde, bekerjasama dengan Tinton Suprapto, pembalap terkenal di zamannya yang juga merupakan ayahanda dari Ananda Mikola dan Moreno Suprapto. Pakde juga berkesempatan untuk meresmikan masjid ini.


<<image 15>>

Malamnya acara bebas. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, beberapa di antara kami pergi ke Kayangan Api Bojonegoro. Terletak sekitar setengah jam saja dari pusat kota.
.
Tiba di sana, ternyata tidak ada orang. Saya kira lokasi sudah tutup, tetapi supir yang mengantar kami ke sana, tempat tersebut buka 24 jam. Ternyata, memang bisa masuk. Lucunya, sekitar 15 menit setelah kami tiba, orang-orang pun berdatangan. Kami berasa menjadi penglaris.
.
Kayangan Api berupa sumber api abadi yang tak kunjung padam yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem. Kompleks Kayangan Api merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan.
.
Menurut cerita, Kayangan Api adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe berasal dari Kerajaan Majapahit, yang bekerja sebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain.


<<image 16>>

Di sebelah barat sumber api terdapat air yang berbau belerang, istilahnya air belukutuk. Air tersebut secara kasat mata terlihat seakan-akan mendidih dan berbuih. Namun, begitu disentuh, ternyata air ini sejuk. Tidak panas sama sekali. Konon, di sinilah tempat keris yang dibuat oleh Empu Supa dicelup. Atau apa itu namanya? Pokoknya dibuat jadi adem lah.
.
Di dekat situ, terdapat pohon cinta, karena apa saya juga lupa. Tadi mau nulis bahwa bentuk batangnya agak mirip dengan bentuk hati. Tapi rasanya tidak juga.
.
Terkesan angker? Memang. Apabila mbah penjaga tidak menemani, rasa-rasanya saya tidak mau berfoto di bawah pohon tersebut.





Featured Post

Kasih Sayang dan Syukur