.
Di salah satu sudut alun-alun, kami menemukan tulisan Taman Mbah Balok, walau tidak tahu apa artinya.
.
Hasil googling beberapa detik lalu, disadur dari jatimnow.com, Mbah Balok ternyata bukan lah manusia. Dia adalah sebatang kayu jati yang primitif. Balok adalah sebutan khas orang Bojonegoro bagi kayu jati.
.
Memiliki panjang 17 meter dan berdiameter 45 cm, kayu jati yang modelnya mirip lesung itu dipajang di pojok selatan alun-alun. .
Pemkab Bojonegoro menjadikan Mbah Balok yang dipajang 7 November 2015 sebagai 'Monumen Gotong Royong Kayu Jati' yang juga sebagai cagar budaya.
.
Memang kabupaten yang yang dikenal sebagai Kota Minyak ini terkenal sejak dahulu tentang kekayaan alam kayu jatinya hingga ke mancanegara. Perabotan di Djanggleng (baca postingan sebelumnya), banyak yanh terbuat dari kayu jati tua.
.
Ohya, satu hal yang unik lainnya dari Kota Bojonegoro adalah, banyak yang menjual makanan untuk bayi, dijual dalam gerobak-gerobak dengan tulisan yang cukup fancy. Setahu saya, di Jakarta belum ada hal seperti ini ya. Ini unik banget sih. Saya saja jadi tertarik untuk mencoba makanan bayi tersebut.
.
Di salah satu sisi alun-alun terdapat Masjid Agung Bojonegoro, yang pada saat itu cukup ramai dipenuhi oleh anak sekolah mengenakan baju muslim. Tampaknya hari itu, jam pertama pelajaran dilakukan di masjid. Terlihat banyak orang tua yang mengantarkan anaknya ke masjid tersebut. Satu hal yang membuat unik adalah, para guru menunggu di depan masjid untuk menyambut siswa-siswanya.
.
Terlihat suatu motor mendekati masjid, dikendarai oleh seorang ibu, dengan anaknya duduk manis di belakangnya. Motor tersebut kemudian berhenti di pinggir masjid, dan si anak turun motor dan mencium tangan ibunya. Mengenali sang anak, salah seorang guru menghampiri motor tersebut, dan menyapa sang ibu dan anak dengan santun dan hangat. "Assalamu'alaikum ibu. Apa kabar? Halo Hanif (bukan nama sebenarnya), sudah sarapan belum?"
.
Ah, I loved loved loved seeing that. Duh, maaf apabila menggunakan Bahasa Inggris, tapi rasanya menggunakan Bahasa Indonesia kurang ekspresif ya. Coba, "saya cinta cinta cinta sekali melihat hal tersebut". Menurut saya terkesan kurang alami. Hehe.
.
Sekolah di Jakarta, atau di kota lain, atau di negara lain, seperti itu kah sekarang?
Hari ketiga #napaktilasbojonegoro2018. Tujuan pertama adalah rumah Pak Harjosudono, tempat di mana dulu eyang kakung pernah tinggal selama sekitar 10 tahun, dari 1931 sampai 1941. Saat itu eyang menjadi guru di desa tersebut. Eh, desa atau kota ya?
Kami disambut oleh Ibu Endang, anak dari pemilik rumah terdahulu. Jadi, sebenarnya rumah tersebut sudah dibagi-bagi ke beberapa anaknya, dan sebagian porsi rumah tersebut sudah dijual.Namun, ibu tersebut enggan menjual bagian miliknya. Beliau berkata bahwa dia merasa bahwa nanti akan ada yang datang kembali untuk melihat rumah tersebut kembali (dan ternyata benar!)
Beliau bercerita bahwa saat pakde baru saja menjabat menjadi kepala daerah tahun 1993 yg lalu, pakde pernah melakukan napak tilas ke rumah tersebut. Bu Endang bercerita dengan sangat bangga bahwa pakde saat itu masih ingat beliau, dan bahkan memanggil dengan panggilan mbakyu dan juga mengingat nama kecilnya.
Konon katanya (kata buku biografi), eyang sejak masih kecil sangat disayang oleh ibunya, karena wajahnya mirip nenek dari pihak ibu. Karena itu pulalah, ia banyak mendapat pengajaran moral dari ibunya, yang kalau menasihati selalu mampu menembus hati. Sikap ibunya ini, menjadi perhatian dan sangat meresap di dalam sanubari eyang. Demikian pula, disiplin tinggi dan semangat ayahnya menyekolahkan anak-anaknya, sangat membekas di relung hati eyang. Dan semuanya, seperti menemukan ruang gerak dan wujudnya, ketika eyang menjadi seorang guru.
Tapi, pengajuannya itu setiap kali pula ditolak. Karena itu, dalam profesi militernya di kemudian hari, ia pun memegang teguh prinsip-prinsip keguruannya. Bahwa ia berada di dalam ketentaraan, bukanlah karena ia memang bercita-cita menjadi tentara - melainkan ingin mengabdi kepada rakyat.
Dalam pengabdiannya sebagai guru, yang sering membuat ia prihatin adalah keadaan di desanya, bila musim hujan. Murid banyak yang membolos, lantaran mereka terpaksa membantu orang tua di rumah dan di sawah, terutama pada saat menggarap sawah. Karena itu, tak jarang ia mendatangi para orang tua murid di rumah-rumah mereka, berdialog, agar anaknya segera diijinkan kembali ke sekolah.
Namun, eyang juga melihat, bahwa memang demikianlah keadaan sebagian besar keluarga di Jawa saat itu. Serba kekurangan, kalau tidak pas-pasan. Karenanya, tak jarang eyang harus pula mengurus sendiri segala sesuatunya, menyangkut keperluan murid dan sekolahnya. Mulai dari mengurus pendaftaran anak didik, menagih uang sekolah yang tertunggak, dan lain-lain.
Di samping bakatnya sebagai guru, yang membantunya dalam kegiatan mengajar ini adalah ketangkasannya dalam berolah raga, seperti atletik, bulu tangkis, dan sepak bola. Bekal kemampuan olah raga ini, secara optimal diturunkan eyang kepada anak didiknya.
Namun, kesukaannya pada olah raga ini turut pula membukakan peluang baginya memasuki dunia militer. Pada saat pendudukan Jepang, eyang berpikir, jika ingin merdeka, maka harus ada persiapan tentara yang matang dan kuat. Maka, dengan semangat nasionalisme yang berkobar, ia pun mendaftarkan diri menjadi opsir. Bahkan, ia juga mengajak bekas murid-muridnya, para pemuda di desanya, untuk ikut mendaftarkan diri.
Sebagai guru dan seorang nasionalis, ia diterima menjadi calon tentara Jepang, dan mendapatkan pendidikannya di Bogor. .
Sikap hidup inilah yang disebut sebagai prinsip hormat dalam etika jawa, yang dalam keluarga eyang mendapatkan tempat secara turun-temurun. Tapi, menurut eyang - prinsip menghormati orang lain dan diri sendiri ini - bukan saja bentukan etika jawa. Sebab nilai yang sama pun ia peroleh dari etika Islam. Dan dalam hal ini, ia hanya berusaha saja agar menjadi muslim yang baik.
Namun, pada masa itu pun, peranan guru di sekolah memang sangat ditentukan oleh kedudukannya sebagai orang dewasa, pengajar, dan pendidik. Harapan dan citra masyarakat tentang guru yang baik harus tetap dipelihara. Aspek etik, intelektual, dan sosial, sudah dituntut tinggi dari seorang guru. Eyang, yang cukup berhasil menghayatinya secara sadar, berhasil pula memperlihatkan, bahwa sosok guru memang benar-benar perlu ditiru anak didik dan masyarakatnya.
---------
Di sekolah ini, eyang mengajar lebih kurang selama 10 tahun. Lokasinya dekat dengan rumah yang tadi kami kunjungi. Sekolah ini sangat bagus menurutku untuk ukuran sekolah yang berada di rumah. Pantas saja, katanya ini satu-satunya sekolah unggulan tingkat propinsi yang berada di sekitar situ.
Kami disambut oleh kepala sekolah, katanya sih arsip mengenai eyang tidak ditemukan, karena administrasi pencatatan yang rapih belum dilakukan pada masa kerja eyang di sana. .
Hanacaraka: ꦧꦺꦴꦗꦤꦒꦫ, Pegon: كَبُڤَتَينْ بَوْجَونٚغَر) memiliki motto Jer Karta Raharja Mawa Karya" (dari Bahasa Jawa yang artinya "Jika Ingin Sejahtera Harus Bekerja"). .
Kota ini memiliki julukan Kota Tayub. Artinya apa? Saya tidak tahu. Saya tahunya Hey Tayub. #halah.
Hasil dari googling, Tayub berasal dari kata tata dan guyub. Yang saya juga tidak paham artinya.
Ohya, jadi, dari Desa Ngraho, kami kembali ke kota Bojonegoro, untuk mendatangi destinasi berikutnya.
Saat itu hari sudah beranjak sore. Tidak ada laga pertandingan di hari itu, jadi stadion sangatlah sepi.
Namun, demi konten, jadilah kami asal berlari di dalam stadion ini 😂. Kami pun mengambil beberapa gambar.
Kami tidak bisa berlama-lama di stadion ini, mengingat kami sudah ditunggu di destinasi berikutnya.
Lokasi acara berada di Taman Palagan. Kata 'palagan' sendiri bagi saya cukup identik dengan Ambarawa. Namun, ternyata palagan tidak hanya ada di Ambarawa. .
Kata 'palagan' berasal dari Bahasa Jawa yang artinya perang, ataupun arena peperangan. Jadi, wajar saja kalau palagan terdapat di banyak tempat di nusantara ini.
Walau ini merupakan destinasi ke sekian, dan hampir di tiap destinasi ada yang menyambut, tetapi saya tetap saja terkejut 😅.
Ohya, beliau para sesepuh menyampaikan cerita, namun ceritanya disampaikan dalam Bahasa Jawa. Yak, saya hanya bisa manggut-manggut saja.
Kalau dari artikel online, Dari penuturan warga sekitar disaat itu situasi Desa Temayang sangat mencekam, rakyat dalam kondisi miskin. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat untuk membantu para tentara Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Para warga memberikan sumbangan kepada tentara Indonesia, baik berupa uang atau hasil bumi dan para pemuda ikut bergerilya.
Dari penuturan warga sekitar disaat itu situasi Desa Temayang sangat mencekam, rakyat dalam kondisi miskin. Akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat untuk membantu para tentara Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Para warga memberikan sumbangan kepada tentara Indonesia, baik berupa uang atau hasil bumi dan para pemuda ikut bergerilya. Bahkan terdapat beberapa orang yang ikut serta gugur melawan penjajahan.
Banyak tempat-tempat yang ternyata menjadi saksi perjalanan hidup eyang, dan beberapa bahkan mengabadikan nama beliau menjadi nama objek tempat atau bangunan.
Dan ya, saya, dan mungkin juga banyak saudara saya yang lain juga tidak mengetahuinya. Saya rasa bahkan ibu saya juga tidak tahu semuanya, hehe. .
Mungkin iya, karena sebenarnya saya sendiri bukan orang yang senang membaca buku sejarah. Alasannya, ya karena, maaf, jujur saja agak membosankan. Begitu mendengar sejarah, yang muncul di pikiran saya adalah mengenai tanggal dan nama, yang membuat saya langsung mengambil langkah mundur teratur. Film sejarah pun saya juga kurang tertarik untuk menonton, padahal mestinya bisa dicoba ya.
Padahal, membaca buku sejarah bisa cukup menyenangkan apabila dilihat dari sudut pandang psikologis pelaku dan tidak hanya dari sisi aktivitas yang dilakukan. Mencoba mendalami apa yang mereka rasakan saat itu dan juga korelasinya dengan tindakan yang diambil, sepertinya akan menarik.
Ohya, kantor desa kebetulan sekali menyiapkan album foto yang berisi acara yang pernah diadakan oleh Brigade Ronggolawe berpuluh-puluh tahun lalu. Beruntung bisa melihat foto-foto jadul di tempat yang bagi saya antah berantah, dan melihat foto orang yang saya kenal di dalamnya.
Nah, menariknya, eyang saya berpendapat bahwa pahlawan sesungguhnya juga meliputi warga dan dan rakyat, tidak secara sempit diartikan sebagai hanya mereka yang memegang senjata saja.
Pahlawan adalah mereka yang rela berbagi makanan kepada para prajurit di tengah hidup yang pas-pasan, pahlawan adalah mereka yang merelakan rumahnya menjadi tempat bersembunyi prajurit, pahlawan adalah mereka yang terkadang menjadi tameng atau bahkan peluru nyasar tentara musuh. Saat para prajurit bisa bersifat bergerak ke sana kemari, rakyat tidak. Warga acapkali menjadi sasaran empuk para tentara musuh.
Oleh karena itu, eyang sangat gelisah ketika terjadi ketimpangan ekonomi. Mungkin di pikirannya, inikah kemerdekaan yang diinginkan dahulu? Pengorbanan rakyat apakah juga membuahkan hasil yang dapat dinikmati oleh semua rakyat secara adil?