25 July 2026

Bojonegoro 1

 #napaktilasbojonegoro2018

Let's take a break from #rturkeytravelog, since I'm gonna write about my Bojonegoro trip. This travelog will be delivered in Bahasa Indonesia.

So yes, I and my family went to. Ups, forgot. Jadi, saya dan keluarga sejak tahun lalu berencana untuk pergi ke Bojonegoro, Jawa Timur. Bojonegoro merupakan tempat kelahiran orang tua dari ibu saya, dan cukup banyak keluarga besar dari buyut yang masih tinggal di sana.

Saya sendiri cukup jarang ke kota ini. Mudik saat lebaran pun tidak pernah. #funfact (ini padanan bahasa Indo nya apa ya?) - ternyata ibu saya pun selama hidupnya tidak pernah mudik saat lebaran. Saya juga baru tau akhir-akhir ini.

Perjalanan Jakarta - Bojonegoro memakan waktu 9 jam perjalanan dengan Kereta Api. Berangkat dari Jakarta hari Jumat malam, kami sampai di Bojonegoro sekitar waktu subuh keesokan harinya.

Ohya, saya baru tahu bahwa di stasiun yg ada di daerah Jawa (butuh validasi di daerah mana saja sih), diawali dengan pembukaan berupa suara gending sebelum pengumuman disampaikan lewat pengeras suara. Keren!

Saya mencoba untuk menyelesaikan travelog Bojonegoro saat (long) weekend ini. Kita lihat saja 😂

Ohya, postingan di travelog kali ini, lebih mengutamakan ragam tulisan dibandingkan gambar. Jangan dibandingkan dengan sesi travelog lain ya 😁

Sebenarnya seri travelog yang ditandai dengan tagar #napaktilasbojonegoro2018 ini sifatnya lebih bersifat dokumentasi personal, tapi saya posting di ranah publik karena tidak tahu juga baiknya posting di mana.

Sebagian memang sifatnya sejarah, yang saya tidak temukan di dunia maya setelah mencoba untuk googling, jadi tidak ada salahnya saya tulis di sini. Ohya, ini dengan asumsi kalau digoogling tidak ketemu, berarti informasi tersebut tidak/belum tersedia untuk publik di dunia maya ya.

Tulis di Microsoft Words atau Google Docs sebenarnya bisa saja, tetapi khawatir akan menjadi sampah secara otomatis. Kalau saya tulis di sini, siapa tahu ada yang baca, walau bisa jadi hanya buang-buang waktu yang baca saja, hehe. Maaf ya.

Oke, jadi hari pertama, setelah menaruh barang-barang di hotel, kami nyekar ke makam eyang buyut. Eyang buyut ini merupakan orang tua dari eyang putri.

Nah, makamnya terletak di (ternyata ini tidak ada catatannya. lol. saya kira akan ada saran dari Instagram, tapi ternyata tidak muncul. Sudah coba cari di Google Map ternyata tidak muncul juga). Menurut saya, makam di sini cukup teratur. Tidak seteratur TPU di Jakarta, tetapi lebih baik dibandingkan TPU Cikutra di Bandung. Mungkin karena kontur tanah di Bojonegoro yang lumayan rata, sedangkan di Cikutra berada di daerah perbukitan, sehingga sepertinya ngaturnya sulit juga.

Selain eyang buyut, di sini juga dimakamkan saudara kandung dari eyang putri, yaitu eyang Kanah dan eyang Tin (eyangnya @reziana). Eyang putri sendiri dimakamkan di TPU Tanah Kusir bersama eyang kakung. (ini macam tulisan blog anak SD ga sih? hahaha. gapapa lah ya).

Ohya, ada beberapa nisan yang tidak ada namanya. Mungkin yang perlu dilakukan adalah memberikan nama yg jelas pada nisan yang tidak bernama (seandainya bisa tinggal mention sodara yg tinggal di sana 😆). Karena, saya bingung mengenali makamnya, kakak.

Setelah nyekar dari makam eyang buyut, kami iring-iringan pergi ke Desa Ngringinrejo.

Ngringinrejo adalah nama satu desa di antara 25 desa (itu data tahun 90-an, sekarang 16 desa) yang ada di wilayah Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur.

Desa ini terletak lebih kurang 7 kilometer di sebelah barat kota Bojonegoro dan di sebelah timur kota Kalitidu. Oleh karena letaknya yang strategis, di antara dua kota Bojonegoro dan Kalitidu, dan hanya setengah kilometer dari jalan besar Bojonegoro-Cepu, desa Ngringinrejo terbilang mudah dijangkau.

Walau kalau dilihat di video ini, dimana kami melewati Bendung Gerak, berarti lewat jalan memutar sih. Mestinya bisa jauh lebih cepat.

Oya, di desa ini, tujuan kami adalah langsung ke rumah buyut, dimana sanak saudara sudah cukup banyak yang menunggu. Yang kami lakukan begitu tiba di rumah buyut adalah, tentu saja makan siang, hoho.

Makanan yang disajikan sangatlah beragam. Sebagai penutup, kami disuguhkan makanan buah kenitu, yang jujur saat itu baru pertama kali saya memakannya. Teksturnya dan rasanya mirip sawo, namun warnanya putih.

Di pekarangan rumah sudah ada tenda dan juga kursi. Ya, hari itu memang akan diadakan pengajian untuk mendoakan para sesepuh desa.

Menurut beberapa informasi, desa ini baru terbentuk sekitar tahun 1911, dua tahun sebelum eyang saya dilahirkan. Sebelumnya, di lokasi itu (Ngringinrejo sekarang) terdapat dua desa yang bernama Mejayan dan Ngringin.

Kedua desa ini, oleh Kartoprawiro (eyang buyut), kemudian digabungkan dan diberi nama: Ngringinrejo. Dengan demikian, tidak berlebihan jika eyang pernah mengatakan bahwa ayahnya merupakan "cikal bakal" atau pendiri desa Ngringinrejo.

Pengajian dihadiri oleh perangkat desa dan para tetangga. Acara berlangsung khidmat.

Rumah eyang buyut berada di sebelah masjid yang pembangunannya dahulu diinisiasi oleh eyang kakung.

Di sebelah masjid, terdapat Balai Desa Ngringinrejo, dan juga satu kompleks dengan tempat Karang Taruna beserta perangkat desa lainnya.

Malam tersebut, terdengar lantunan campur sari dari pendopo yang berada di dekat balai desa. Saya sangat senang mendengarnya. (Tadi mau tulis 'I loved it', tapi saya sedang mencoba untuk secara konsisten berbahasa Indonesia. Cukup sulit ya ternyata).

Memang, saya sangat senang mendengar suara alunan alat musik tradisional, walau bukan berarti playlist (ini apa bahasa Indonesianya?) saya berisi lagu tradisional.

Waktu sedang tinggal di Bali, saya juga begitu senang ketika jam 6 sore muncul suara alunan musik dari pura tempat orang sembahyang. Terkesan organik saja, beda dengan alunan musik dari Spotify atau iTunes yang menjadi andalan biasanya di Jakarta (ya iya lah).

Malamnya, kami pergi ke rumah saudara kami yang berada di desa Pungpungan.

Ohya, menyenangkan juga ya memiliki rumah di sebelah masjid. Jadi, kalau adzan, hanya sepelemparan batu ke masjidnya.




No comments:

Post a Comment

Featured Post

Kasih Sayang dan Syukur