Tujuan utama hari itu adalah menghadiri acara pernikahan kawan kami, @krisnadibyo93 dan @kennabila.
Terdapat beberapa hal yang menarik dari pernikahan tersebut:
1. Di awal acara, ada sesi dimana pengantin wanitanya menari dengan luwesnya. Adapun pengantin prianya melihat dengan terkesima (mungkin ingin ikut menari juga). Di Medan juga ada prosesi dimana pengantinnya menari ya kalo ga salah.
2. Seluruh hadirin duduk di kursi yang sudah disediakan dan menghadap panggung pelaminan. Konsepnya mirip kalo ada seminar gitu kali ya. Kalo di Jkt, sebagian besar kan standing party. Atau juga ada yg konsep dimana ada beberapa round table gitu.
3. Saat memasuki pelataran gedung pernikahan, ada banner yang sangaaat besar berisikan foto kedua mempelai. Ini jarang banget ada di Jakarta.
4. Sajian makanannya berupa masakan Palembang (ya iya laaah).
.
We're so happy seeing both of you looking fantastic and ecstatic. Semogaaa selalu diberikan kebahagiaan dan keberkahaaan. Aamiin
Nama museumnya adalah Balaputradewa. Museum ini terletak di kawasan KM 6,5 Kota Palembang. Di beberapa kota, menarik ya penggunaan "km" untuk ancer2 suatu tempat. Soalnya di Jakarta tampaknya hampir ga pernah digunakan.
Pas masuk, ternyata lumayan bersih kok. Ga serapih Museum Purbakala di Sangiran sih, tapi acceptable lah.
Oya, nama museum ini, Balaputra Dewa diambil dari nama Raja Sriwijaya abad ke-9 dan mantan kepala Dinasti Sailendra yang berpusat di sekitar Palembang. Pastinya udah pernah denger dong nama Sailendra dan Balaputra Dewa?
Di museum ini terdapat tiga ruang pamer utama. Nah, sebelum memasuki ruang pamer, kami menyaksikan berbagai koleksi arca di selasar museum. Berbagai replika arca tersebut berasal dari zaman megalith di Sumatera Selatan.
Berbagai arca yang saat ini menjadi koleksi museum antara lain arca megalith ibu menggendong anak, arca orang menunggang kerbau, hingga arca manusia dililit ular.
Beranjak ke ruang museum, kami melihat koleksi zaman Kerajaan Sriwijaya, zaman Kesultanan Palembang, hingga pergerakan pejuang kemerdekaan pada zaman kolonialisme Belanda. Yaa, based on historical order lah, dari prasejarah kemudian ke zaman sejarah.
Pada bagian lain ditemukan berbagai replika prasasti yang menjelaskan awal mula berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Prasasti-prasasti tersebut antara lain, prasasti Kedukan Bukit, Relaga Batu, Kota Kapur, Talang Tuo, dan sebagainya. Familiar kan dengan nama2nya?
Sebagian besar prasasti zaman Sriwijaya yang ada di museum tersebut adalah replika, yang asli sebagian besar ditempatkan di Museum Nasional di Jakarta dan di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya Palembang.
Kalo hasil googling, saya juga baru sadar bahwa Bahasa Melayu dituturkan mulai sepanjang pantai timur Sumatra, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu hingga pesisir Pulau Borneo. I see. Jadi memang secara bahasa memang satu rumpun ya.
Tapi, kenapa mereka sampe bikin 1 section sendiri di kita punya museum? What are they trying to do?
Apakah memang ada hubungan antara Kerajaan Melaka dengan Indonesia? Mengapa ada koleksi benda bersejarah milik Kerajaan Melaka tersimpan di Palembang?
"Pendiri Kerajaan Melaka sebenarnya adalah orang asli Palembang bernama Parameswara. Dia adalah anak raja Sriwijaya yang melarikan diri hingga ke Temasik (Singapura) dan akhirnya mendirikan Melaka. Namanya berganti menjadi Iskandar Syah dan menjadi raja pertama di sana"
Akar budaya masyarakat Melaka pada dasarnya berawal dari Indonesia, terutama Palembang dan juga Jawa. Banyak kemiripan budaya yang bisa dijumpai, dari mulai segi bahasa maupun pakaian.
Pakaian sehari-hari untuk wanita juga kebaya, sama seperti kita. Dari segi bahasa juga mirip-mirip, kata-katanya banyak yang berasal dari bahasa Jawa. Oleh karena Indonesia, terutama Palembang dianggap sebagai nenek moyang bangsa mereka, pihak Kerajaan Melaka memutuskan untuk menjalin kerja sama dan menyumbangkan beberapa koleksinya untuk dipajang di Museum Balaputra Dewa sejak beberapa tahun silam.
Sebagai bentuk kerja sama antar keduanya, pihak Museum Balaputra Dewa juga mengirimkan beberapa koleksi benda bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya untuk dipamerkan di Museum Melaka. Ini adalah konsep pertukaran budaya yang disepakati oleh kedua pihak tersebut.
Dengan adanya pertukaran koleksi antar kedua museum ini, masyarakat Melaka bisa mengetahui asal usul akar budaya mereka, sementara penduduk Palembang juga bisa tahu bahwa budaya mereka dipakai menjadi identitas awal berdirinya Kesultanan Melaka.
Pada bagian belakang bangunan ruang pamer museum, terdapat rumah limas yang merupakan bangunan tempat tinggal khas masyarakat Kota Palembang yang terbuat dari kayu.
Rumah limas yang berusia lebih dari 200 tahun masih terlihat berdiri kokoh
Sebelum ditempatkan di kawasan Museum Balaputra Dewa, rumah limas tersebut berada di tepian Sungai Musi yang merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Palembang pada abad ke-17.
Btw, kita kenapa ga foto bareng duit 10ribuan ya @krishna_malikk
@dennice_herpudyo @clementinetrifosa @rosaliaad ? Foto kedua ngembat dari internet 🙈
Btw, bener ga sih nama cafenya ini? 🤣
Sebenarnya banyak pilihan pempek di Palembang. Kali itu kami ke Pempek VICO yang lokasinya tepat berada di tempat kami menginap. Kala itu tempatnya sudah ramai!
Asal mula pempek memang berasal dari Palembang, namun sejarah asal mula hidangan ini kurang jelas. Dongeng tradisional mengaitkannya dengan pengaruh kuliner Tionghoa (dan dimana pempek berasal dari kata apek-apek karena yang jualan adalah seorang kakek-kakek asal Tionghoa). Tadinya saya mau copas versi ini saja karena seru, tapi ternyata ada yang debunk dengan alasan-alasan yang make sense, jadi batal deh. haha
Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa pempek mungkin berasal dari makanan kuno yang disebut kelesan, makanan kukus yang dibuat dari campuran adonan sagu dan daging ikan, dan diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan Sriwijaya pada kurun abad VII Masehi.
Mulai dibangun pada tahun 1738, masjid terbesar di Palembang ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo (dan tentu para pekerjanya).
Memasuki masjid, kesan megah langsung terasa dengan langit-langit yang tinggi, material lantai marmer, dan bawah kubah serta lampu gantung yang elegan.
Sebagian besar kayu yang terdapat di arsitektur masjid memiliki ukiran khas Palembang yang disebut Lekeur.
Dan memang menarik sih jalan sore di jembatan ini. Karena first timer kali ya.
Selanjutnya saya sadur dari wiki, wkwk.
Pembangunan jembatan ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana rampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, jembatan inipun menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.
Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu.
Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara.
Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).
Penasaran kayak gimana ya kalo diangkat gitu, coba nyari videonya tapi belom nemu.
Apa latar belakang dibuatnya monumen ini? Jadi, pada Januari 1947, Belanda menyerang Kota Palembang dengan mengerahkan tank dan artileri. Penjajah Belanda juga menembaki pejuang nasionalis dari kapal perang dan boat, menjatuhkan bom serta granat. Pertempuran itu terjadi di hampir seluruh wilayah Kota Palembang selama 5 hari 5 malam dan menghancurkan sebagian kota ini.
Untuk memperingati peristiwa tersebut, Legiun Veteran Sumatera Selatan berinisiatif untuk membangun sebuah monumen peringatan. Pembangunan monumen selesai pada 1988.
Bentuk Monpera menyerupai bunga melati bermahkota lima. Melati menyimbolkan kesucian hati para pejuang, sedangkan lima sisi manggambarkan lima wilayah keresidenan yang tergabung dalam Sub Komandemen Sumatera Selatan.
Sedangkan jalur menuju ke bangunan utama Monpera berjumlah 9, yaitu 3 di sisi kiri, 3 di sisi kanan, dan 3 di sisi bagian belakang. Angka 9 tersebut mengandung makna kebersamaan masyarakat Palembang yang dikenal dengan istilah “Batang Hari Sembilan”.
Sementara tinggi bangunan Monpera mencapai 17 meter, memiliki 8 lantai, dan 45 bidang/jalur. Angka-angka tersebut mewakili tanggal proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Sebenernya kayaknya menarik ya monumen ini untuk dieksplor, di LN tampaknya jg quite common monumen2 semacam ini. Sayang waktu itu sudah malam, jadi sudah tutup juga.
Jadi, kami mencoba RM Pindang Musi Rawas. Sesuai namanya, menu andalannya adalah pindangnya. Sebenarnya, saya bukan penggemar pindang, tapi bisa lah makan pindang. Waktu ke sini, yaa sama aja. haha. Enak sih, tapi memang pada dasarnya kurang prefer aja. Kayaknya makanan pindang2 yang saya doyan itu telor pindang.
In general, makanannya enak2. Walau saya sudah lupa sih kalo boleh jujur, lol. Yang saya incar itu adalah Brengkes Tempoyaknya tentu saja, alias tempoyak durian. Durian yang telah difermentasikan.
Rasanya memang unik sih, one of a kind lah, haha. Bagi saya, edible. Tapi bukan favorit. Sekali kali gapapa lah, tapi bukan untuk dimakan setiap hari juga.
Okay, back to Mie Celor. Ini saya bukan sok imut ya, nulis telor jadi celor. Namanya emang pake C, as in Cicak, Coro, Cabe. C. Kayak orang juga denger Coto Makassar, dibilangnya sok imut. Hadehh.
Jadi, mie celor merupakan hidangan mi yang disajikan dalam campuran kuah santan dan kaldu ebi (udang kering), dicampurkan taoge dan disajikan bersama irisan telur rebus, ditaburi irisan seledri, daun bawang dan bawang goreng.
Enak apa engga? Menurut saya, ENAK BANGET! Kuahnya kental macam Seirockya Ramen itu. #halah. Saya sih lebih suka ini dibandingkan pindang ya.
Mie celor ini kayaknya ada beberapa cabang, saya pilih yang deket penginapan saja, deket pasar gitu. Pas itu tempatnya sepi banget, udah waswas kalo ga enak. Ternyata, mantabbb!
Abis dari sini, saya pun pergi beli ke tempat pempek, kali ini ke Pempek Candy. Kenapa namanya Candy? entahlah, walau menurut saya agak kurang menujukkan ke-Palembang-annya sih. Interior si Pempek Candy ini menurut saya sangat oke, sungguh kekotaan, tampaknya baru dibangun ya dibanding yang Vico kemaren.
Setelah beli pempek untuk oleh-oleh, saya pun siap2 kembali ke Jakarta, rencananya naik bis. Kenapa naik bis? Karena belum pernah! Kebetulan saat itu waktu saya sedang lowong karena tidak bekerja, jadi ingin berpetualang saja naik bus. Sayangnya katanya saat itu jalannya lagi putus karena apaa gitu, jadinya tiket saya dicancel. Sedih.